BANDUNG – Persaingan abadi antara dua raksasa supercar asal Italia, Ferrari dan Lamborghini, kembali memasuki babak baru yang super panas. Namun kali ini, pemicunya bukan adu cepat di lintasan balap, melainkan kontroversi desain di era elektrifikasi yang sedang ramai diperbincangkan di jagat maya.
Ferrari baru-baru ini meluncurkan bocoran arsitektur dan desain untuk mobil listrik (Electric Vehicle/EV) pertama mereka, Ferrari Luce. Alih-alih mendapatkan sambutan meriah, pabrikan berlogo kuda jingkrak ini justru harus rela memanen hujatan dan kritik tajam dari para petrolhead (pencinta otomotif konvensional) di seluruh dunia.

​Desain “Terlalu Kalem” yang Menghilangkan Jati Diri Maranello
​Banyak penggemar fanatik merasa kecewa karena garis desain Ferrari Luce dinilai terlalu futuristik yang “dipaksakan”, cenderung mirip kapsul, dan kehilangan aura agresif nan gahar yang selama ini menjadi jati diri mobil-mobil keluaran Maranello. Ditambah lagi, hilangnya raungan mesin V12 atau V8 yang ikonik membuat mobil listrik seharga kisaran Rp12 miliar ini dianggap “kehilangan jiwanya”.
​”Membeli Ferrari tapi tidak ada suara knalpot yang menggelegar itu seperti memesan mi kocok Bandung tapi tanpa kikil. Hambar dan kehilangan estetikanya!”
​Kritik netizen terus mengalir deras di platform X (Twitter) dan Instagram, menyebut bahwa Ferrari terlalu terburu-buru berkompromi dengan pasar EV hingga mengorbankan nilai sejarah mereka demi regulasi emisi global.
​Lamborghini Ikut Buka Suara dan Menyentil Sang Rival
​Melihat sang rival abadi sedang digempur kritik, pihak Lamborghini tidak tinggal diam. Dalam sebuah wawancara terbaru, petinggi Lamborghini mengeluarkan pernyataan yang cukup menggelitik sekaligus menyentil strategi kompetitornya tersebut.
​Mereka secara tersirat menyebut bahwa Lamborghini merasa “beruntung” karena memilih jalan yang lebih berhati-hati dan tidak tergesa-gesa mematikan mesin pembakaran internal (ICE) mereka demi EV murni.
​”Kami tidak ingin menjual mobil listrik hanya karena tren. Bagi kami, emosi, raungan mesin, dan desain yang membuat orang merinding saat melihatnya adalah hal utama. Jika emosi itu belum bisa digantikan secara utuh oleh baterai, kami tidak akan memaksakannya kepada konsumen.”
​Sentilan ini langsung memicu reaksi besar dari para pengamat otomotif. Lamborghini sendiri saat ini memang lebih fokus pada teknologi Plug-in Hybrid (PHEV) seperti pada lini Revuelto mereka, yang dinilai berhasil mengawinkan efisiensi modern tanpa membuang suara gahar mesin asli.
​Dilema Raksasa Supercar: Pilih Idealisme atau Regulasi?
​Fenomena ini memperlihatkan betapa besarnya tantangan yang dihadapi produsen mobil mewah di tahun 2026. Di satu sisi, mereka ditekan oleh regulasi global yang menuntut emisi nol bersih (zero emission). Di sisi lain, konsumen mereka adalah kaum puris yang rela membayar miliaran rupiah justru demi performa mekanikal dan kebisingan eksklusif dari mesin bensin.
​Apakah eksperimen EV pertama Ferrari ini akan berujung sukses secara penjualan meski dihujat secara estetika? Ataukah strategi Lamborghini yang tetap mempertahankan “suara mesin” yang akan keluar sebagai pemenang di hati para miliarder dunia? Kita lihat saja perkembangannya di jalanan.

