JAKARTA – Filosofi bekerja secukupnya atau *quiet quitting* sempat dipuja generasi muda di media sosial. Namun, realita pahit ketidakpastian ekonomi makro global saat ini mulai memaksa para pekerja urban untuk segera bangun dari mimpi indahnya.

Jebakan Zona Nyaman yang Berujung Stagnasi
Banyak pekerja keliru mengartikan tren ini sebagai *work-life balance*. Padahal, menolak belajar skill baru justru mengikis nilai tawar mereka di industri. Saat automasi AI berkembang masif, posisi kerja administratif repetitif akan menjadi yang pertama dihapus.
“Perusahaan tidak lagi membayar waktu yang Anda habiskan di depan laptop, melainkan dampak nyata (impact) dan solusi bernilai yang mampu Anda eksekusi.”
Membangun Benteng Karir Mandiri
Langkah terbaik menghadapi volatilitas karir adalah membangun keahlian spesifik yang sulit digantikan kecerdasan buatan maupun freelancer murah. Profesional sejati adalah mereka yang bekerja cerdas, menjaga mental, dan terus melakukan upskilling kompetensi.